Perkenalkan, nama saya Andi. Saat
ini saya berusia 22 tahun. Secara
fisik banyak yang bilang saya
tampan. Namun bisa dibilang saya
ini culun abis dan agak kurang
pergaulan. Sejak dari SD saya terbiasa mengancingkan kerah
baju bagian atas. Dan entah
kenapa sampai saat ini, saya
nyaman-nyaman saja dengan
penampilan saya itu meskipun
banyak yang bilang culun. Saya juga sudah sangat sering menjadi
korban jahil teman-teman. Kejadiannya kurang lebih 6 tahun
yang lalu, ketika saya masih SMA
kelas 1. Hari itu hari sabtu. Semua
terasa biasa saja, sampai jam
menunjukkan pukul 3 yang
merupakan waktu pulang sekolah. Kejadian itu takkan pernah saya
lupakan. Saya merupakan anak
terakhir yang meninggalkan kelas
pada saat itu. Karena rasa kebelet kencing saya
sudah tidak terelakkan, saya
bergegas ke kamar kecil. Begitu
sampai disana, langsung kubuka
resleting dan piss curr, …. (*maaf, memang saya merasa kurang nyaman
dengan celana dalam, jd saya
hampir tidak prnah mmakai celana
dalam, hehe). Selanjutnya saya
bergegas keluar dari kamar mandi
dan selanjutnya pulang. Tiba-tiba begitu melewati depan
kamar mandi wanita, ada seorang
teman sekelas saya wanita
menyapa. namanya Jenny. “Hai ndi, blum pulang ?” tanya Jenny. “Iya Jen, ini baru mau pulang ” jawabku. “Mau bareng gak ?” tanya Jenny. “Oh, nggak usah Jen. Aku ngekos didepan situ kok ” jawabku. “Hmmm, yaudah ” jawab Jenny agak ketus. “Duluan ya Jen ” aku pamit Jenny tidak mnjawab. Tiba2 dia
memanggilku. “Eh, Andi sini dong” pinta Jenny. “Ada apa ?” tanyaku penasaran. Tiba-tiba dari dalam kamar mandi
muncul 3 orang temannya yang juga
merupakan teman sekelasku.
Mereka langsung membekapku
dengan sapu tangan dan
menyeretku ke dalam kamar mandi. Dari sapu tangan itu, aku mencium
bau-bau alkohol seperti yang
biasanya ada di Lab. Kimia.
Seketika itu aku pun tak sadar. Begitu sadar, aku merasa pusing
sekali. Tapi aku bingung. Dimana
aku?? Kenapa aku masih
mengenakan baju seragam
lengkap?? Lalu aku menyadari
bahwa aku ditidurkan dengan tangan kakiku diikat dipojok-
pojok kasur. Mulutku juga
dilakban. Ada apa ini?? Siapa
yang menjahiliku?? Beberapa menit kemudian muncul
seorang wanita yang kukenal. Tak
lain tak bukan adalah Jenny dan
ketiga temannya, Rini, Eka, dan
Cindy. “Welcome to my house, Andi ” kata Jenny sambil tersenyum. “Oh, tidak. Apa yang yang akan mereka
lakukan padaku ” pikirku dalam hati. Kucoba meronta-ronta tapi
mereka tidak menggubrisnya.
Mereka malah tertawa-tawa. Tiba-
tiba Jenny bertanya pada Cindy,
“Let’s start the party ?”, “Ok guys, Tancaaap !!” jawab Cindy. Tiba-tiba mereka semua melepas
semua pakaian mereka, alias
telanjang atau bugil. Seumur-
umur baru kali itu saya melihat
wanita tanpa busana. Bahkan saya
tidak pernah melihat bokep sebelumnya. Secara alamiah penis
saya tiba-tiba ereksi. Cindy
melihatnya, kemudian berkata
pada Jenny “Jen, lihat tuh ”. Mereka semua langsung tertawa
terbahak-bahak begitu melihat
ada yang menonjol dari celana
saya. Tanpa instruksi, tiba-tiba Rini
membuka resleting celana seragam
abu-abu saya. Dia kaget dan
berkata “Parah!! Ni anak kagak pake kancut. Eh, tapi lumayan
gede jg titit lo ”. Aku yang sedang bingung dan
ketakutan hanya terdiam saja. “Gue nyicip duluan ye ” kata Rini. Tiba-tiba dia langsung mengulum
dan menghisap penisku. Aku yang
tidak tahu apa-apa tentang seks
sebelumnya langsung terkejut.
Seperti disetrum rasanya. Inginku
meronta-ronta tapi semua sia-sia. Ikatan tali itu telalu kuat.
Mulutku juga dilakban. Tiba-tiba ada rasa seperti ingin
kencing, tapi ini lain. Terasa
nikmat sekali. Dan “aaagghhh ” aku merasakan ada cairan yang keluar
dari penisku dan masuk ke mulut
Rini. “Apa ini??” pikirku “Hmm, boleh juga lo ” kata Rini padaku. “Ni, siapa mau? Tar klo uda gw lagi ye.” kata dia pada yang lain. “Gampaang. Hari ini mpe besok, Andi buat kita. Hahahhaa ” kata Jenny sambil tertawa. “Apa?? Aku diginikan sampai besok?? Dimana orang-orang rumah
ini??” pikirku dalam hati Tidak seperti Rini, Jenny tidak
mengulum penisku. Dia langsung
memasukkan ke dalam lubang di
daerah pantatnya. “Apa ini vagina??” pikirku sambil ketakutan. Selanjutnya Jenny menggenjotnya dengan
penuh semangat. “Aaagghh, tolong hentikan ini ” pintaku dengan tidak jelas
karena mulutku masih dilakban. Tiba-tiba rasa ingin kencing itu
muncul lagi. Dan, akhirnya cairan
itu keluar lagi. Kali ini didalam
vagina Jenny. Setelah cairan itu
keluar, Jenny melepaskan
vaginanya dari penisku kemudian dia menjilati cairan sperma yang
tersisa di penisku. Jenny pun
selesai denganku. Aku benar-
benar merasa jijik dengan ulah
mereka semua. Mereka semua
menyetubuhiku yang masih dengan seragam lengkap. Jenny kemudian berkata pada Eka
“Tuh, giliran lu” “Nggak ah, gw ga ada nafsu sama sekali ma tu anak ” jawab Eka. “Parah lu, dasar lesbi ” timpal Cindy. “Biarin, EGP” jawab Eka. “Alhamdulillah, cobaan ini telah berakhir” pikirku begitu Eka menolak menyetubuhiku. Tapi aku baru sadar bahwa Cindy
belum melakukannya. “Yaudah, klo ga mau biar gw yang ngabisin, hahha ” kata Cindy. “Astagaaa ” pikirku. “Ok Ndi, ronde ke-3 dimulai. Are u ready?” tanya Cindy. Aku menggeleng-gelengkan kepala
minta ampun supaya dihentikan
semua ini. Namun Cindy tidak
menggubrisnya. Seperti Rini, dia
memulai dengan mengulum penisku.
Karena sudah agak loyo, kali ini spermaku keluar setelah hampir 20
menit. Setelah puas nyepong aku,
dia pun menjilati sisa-sisa sperma
tanpa sisa. Dia benar-benar
seperti profesional dan aku yakin
ini pasti bukan yang pertama baginya. Aku benar-benar tersiksa
dengan keadaan ini semua. Ternyata dia masih melanjutkan
ronde ke-4. Dia memasukkan
penisku ke dalam vaginanya. Tapi
yang ini lain, aku benar-benar
terbawa dalam permainannya dan
aku merasakan kenikmatan. Dia menggenjot dengan perasaan. Aku
yakin dia benar-benar
profesional. Akhirnya aku pun
orgasme dan cairan itu keluar di
dalam vagina Cindy. Setelah itu
aku benar-benar merasa teler telah meladeni ketiga wanita itu.
Tiba-tiba Jenny bertanya “Mau makan Ndi ?” Aku mengangguk. “Yauda, mandi sana dulu ” Lalu Jenny melepaskan ikatanku.
Kemudian dia berkata “Jangan kabur lu. Lu mpe nyoba kabur ga
segan-segan gw potong tu penis.
hahaha” “Iya Jen” jawabku dengan takut. Kemudian aku pun mandi. Karena
tak punya baju ganti, kupakai
lagi seragam putih dan celana
abu-abu itu. Kemudian aku menuju
ruang makan dimana mereka
berkumpul. “Ayo Ndi makan, ga usah malu-malu gitu lah ” canda Cindy. Aku hanya tersenyum. Setelah itu
aku pun makan dengan lahapnya.
Kemudian aku bertanya “Kapan aku bisa pulang Jen ?” “Besok ya Ndi” jawab Jenny. “Karena….” “Karena apa Jen ” tanyaku. “Karena malam ini lu belum selesai, hahaha ” kata Jenny. Seketika dia langsung
mencengkeramku bersama 3 orang
temannya dan mengikatku lagi persis seperti posisi awal tadi. “Oh, Tuhan. Cobaan belum usai ” pikirku. Dan seperti sebelumnya mereka
menggilirku. Tapi kali ini aku
sudah bisa agak menikmati
permainan mereka, meskipun
dengan rasa agak tersiksa.
Keesokan sorenya aku diantarkan pulang oleh Jenny. Dia berpesan
“kalo sampe lu bongkar, lu mati !!”. Aku hanya mengangguk. Dan
akhirnya sampai lulus SMA saya
tetap menjaga rahasia itu. Bahkan
ketika dulunya masih bertemu
dikelas, mereka pun tersenyum-
senyum dan saya membalasnya dengan senyum yang agak
terpaksa. Yah, setidaknya saya
sedikit menikmat permainan
mereka meskipun dengan agak
tersiksa.